Sudah lama semenjak pos terakhir saya di Tumblr ini. Sesungguhnya banyak yang ingin saya tulis, namun apa daya semua hanya wacana bahkan dalam perencanaan kepala saya sendiri. Anyways..
Hari ini saya bertemu penulis Indonesia favorit saya, mbak Ayu Utami, di sebuah acara bedah buku di daerah Kemang, Jakarta. Sosok beliau ternyata lebih mungil dari foto-fotonya yang menghias sampul belakang buku-bukunya. Tidak terlalu berhubungan sih dengan dengan pembahasan saya, hanya saja saya pikir beliau akan lebih tinggi.
Bedah buku berlangsung dengan diskusi mengenai buku terbaru beliau yang berjudul ‘Cerita Cinta Enrico’ yang saya yakin juga akan menjadi buku yang saya nikmati baca. Namun saya lebih tertarik akan pemikiran dan latar belakang beliau dalam pemilihan tema. Salah satu pembaca menunjukkan bahwa dalam novel-novel mbak Ayu Utami selalu ada unsur militer (para pria dan seragam ketatnya), paham ke-kirian dan para aktivis. Beliau sendiri berpikir yang selalu ada dalam novelnya adalah Tuhan, irasionalitas dan seks. Tebak mana yang membuat saya tertarik.
Hal yang dianggap tabu biasanya lebih menarik untuk ditelusuri, reverse psychology atau apapun namanya itu.
Perempuan muda Indonesia secara umum lebih sulit mengekspresikan seksualitasnya dibanding perempuan di dunia Barat karena pengaruh agama dan norma sosial yang sangat kental. Norma agama ya sudahlah ya. Namun kungkungan sosial ini yang kadang menyebalkan. Membicarakan masalah seks sesama teman wanita pasti lebih jarang dibanding locker-room talks yang sering dilakukan laki-laki; untuk memulainya saja sudah dengan bisik-bisik dan cekikikan karena menganggap diri nakal bicara soal seks. Belum lagi kalau ada wanita yang berbicara terbuka, para laki-laki konservatif akan terbelalak matanya dan langsung beringsut pergi atau tertawa terpaksa. Bentuk milik perempuan saja sudah di dalam, ditambah lagi pengaruh mengukung dari luar fisiknya, tambahlah ia tak mampu berekspresi. Namun saya sadari beberapa orang memang bukan tipe yang suka dihadapkan dengan hal seperti ini dan enggan menyampaikan kejujurannya, dan itu pun merupakan hak mereka untuk tidak membuka.
Senang sekali tulisan para sastrawani Indonesia semakin jujur. Mungkin memang itulah tugas mereka; memperdebatkan apa yang dianggap belum selesai demi menyampaikan kejujuran hati. Kata mbak Ayu Utami, tidak menarik membicarakan apa yang sudah mengendap dan selesai. Mungkin selama perempuan Indonesia masih terjebak dalam keengganannya berbicara, seks tidak akan hanya sekedar menjadi bumbu dan akan selalu menjadi menu utama dalam novel-novel beliau. Yang mana saya akan selalu dukung haha…