photoset

Poor beings :’(

jtotheizzoe:

The Secret of the Ooze: Two Years After the Spill

Al Jazeera has a frightening, damning, and infuriating report on the ongoing damage to the Gulf of Mexico ecosystems since the Deepwater Horizon oil spill. It’s been nearly two years since the Macondo well was ruptured, spilling almost 5 million barrels of oil and requiring almost 2 million gallons of dispersants to clean it up.

Fishermen are reporting shrimp catches full of eyeless shrimp, as well as fish and shellfish with oozing sores and black gills. The damage doesn’t seem limited to oil, either. Manganese-heavy drilling mud and dispersant lefotvers are showing up at even higher rates than petroleum.

Head over to Al Jazeera to read the full article. The Gulf has not recovered, and it will likely take most of a lifetime to do so. It’s important that scientists continue to get financial support to monitor the area and that the government keep pressure on BP to do their part. Not just this year, but until the mistake is fixed.

This is one of the most diverse and fruitful ecosystems in America, and we must repair it.

(via iamonlyamaid)

01:50 pm: solitaryanimal2,012 notes

picture HD
12:30 am: solitaryanimal

Link
Bedah buku dan pencerahannya

Sudah lama semenjak pos terakhir saya di Tumblr ini. Sesungguhnya banyak yang ingin saya tulis, namun apa daya semua hanya wacana bahkan dalam perencanaan kepala saya sendiri. Anyways..

Hari ini saya bertemu penulis Indonesia favorit saya, mbak Ayu Utami, di sebuah acara bedah buku di daerah Kemang, Jakarta. Sosok beliau ternyata lebih mungil dari foto-fotonya yang menghias sampul belakang buku-bukunya. Tidak terlalu berhubungan sih dengan dengan pembahasan saya, hanya saja saya pikir beliau akan lebih tinggi.

Bedah buku berlangsung dengan diskusi mengenai buku terbaru beliau yang berjudul ‘Cerita Cinta Enrico’ yang saya yakin juga akan menjadi buku yang saya nikmati baca. Namun saya lebih tertarik akan pemikiran dan latar belakang beliau dalam pemilihan tema. Salah satu pembaca menunjukkan bahwa dalam novel-novel mbak Ayu Utami selalu ada unsur militer (para pria dan seragam ketatnya), paham ke-kirian dan para aktivis. Beliau sendiri berpikir yang selalu ada dalam novelnya adalah Tuhan, irasionalitas dan seks. Tebak mana yang membuat saya tertarik. 

Hal yang dianggap tabu biasanya lebih menarik untuk ditelusuri, reverse psychology atau apapun namanya itu.

Perempuan muda Indonesia secara umum lebih sulit mengekspresikan seksualitasnya dibanding perempuan di dunia Barat karena pengaruh agama dan norma sosial yang sangat kental. Norma agama ya sudahlah ya. Namun kungkungan sosial ini yang kadang menyebalkan. Membicarakan masalah seks sesama teman wanita pasti lebih jarang dibanding locker-room talks yang sering dilakukan laki-laki; untuk memulainya saja sudah dengan bisik-bisik dan cekikikan karena menganggap diri nakal bicara soal seks. Belum lagi kalau ada wanita yang berbicara terbuka, para laki-laki konservatif akan terbelalak matanya dan langsung beringsut pergi atau tertawa terpaksa. Bentuk milik perempuan saja sudah di dalam, ditambah lagi pengaruh mengukung dari luar fisiknya, tambahlah ia tak mampu berekspresi. Namun saya sadari beberapa orang memang bukan tipe yang suka dihadapkan dengan hal seperti ini dan enggan menyampaikan kejujurannya, dan itu pun merupakan hak mereka untuk tidak membuka.

Senang sekali tulisan para sastrawani Indonesia semakin jujur. Mungkin memang itulah tugas mereka; memperdebatkan apa yang dianggap belum selesai demi menyampaikan kejujuran hati. Kata mbak Ayu Utami, tidak menarik membicarakan apa yang sudah mengendap dan selesai. Mungkin selama perempuan Indonesia masih terjebak dalam keengganannya berbicara, seks tidak akan hanya sekedar menjadi bumbu dan akan selalu menjadi menu utama dalam novel-novel beliau. Yang mana saya akan selalu dukung haha…

12:03 am: solitaryanimal

Link
Passing Thought..

Why do every time I show deep, honest attention or care to a person, I always get disappointed? The only time I said something more than just care to an ordinary friend, even verging on a very rare (at least for me) sisterly remark, the person backed off with sayings along the lines of ‘stepping to the sister’s zone would be awkward for our relationship, let’s just stick to being friends’.

Okay.

Well, that was two months ago.

Tonight, when just I thought I could give it another go (as in expressing care and attention to a person), I was dissed again. How could saying a simple ‘take care on your way’ is met with cynical ‘wow, you’re so kind to say that lol’? It might seem nothing, but really, those words are mind-blowing in not a good way.

Maybe I expect to much from these people I thought I had as my personal circle. At the rate this stuff goes on, I will have a very hard trouble of expressing care or attention, and will ultimately fail in my self-induced therapy of trying to ‘open up’. Well, at least people should open up to ME, not vice versa.

11:25 pm: solitaryanimal1 note

Conversation
La Meglio Gioventù

Sara Carati:What should I do?
Nicola Carati:I don't know, it depends on how strong you feel... Are you happy now?
Sara Carati:Of course I am!
Nicola Carati:Then, it's time to be generous.
10:00 am: solitaryanimal1 note